Masjid Agung Sang Cipta Rasa
Pada saat awal pembangunan Masjid Agung Demak, adalah Sunan Gunung Jati yang memohon izin kepada para wali lainnya untuk membuat pasangan Masjid Agung Demak itu di Kota Cirebon. Jika Masjid Agung Demak dikatakan memiliki watak maskulin, maka Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini dikatakan memiliki sifat feminin.
Gapura depan Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang terbuat dari susuan batu bata merah bergaya Majapahitan. Atap Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini berbentuk limasan dan tanpa mahkota masjid pada puncak bangunannya, tidak sebagaimana masjid wali lainnya yang beratap tajug atau piramid susun berjumlah ganjil.
Tiang di sebelah kanan yang disangga pelat baja adalah salah satu soko guru Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang kabarnya dibuat oleh Sunan Kali Jaga dari tatal atau serpihan kayu yang disatukan.
Bagian beranda samping Masjid Agung Sang Cipta Rasa dengan tiang-tiang kayu berukir pada bagian atasnya yang terlihat sudah sangat tua. Berbeda dengan tradisi masjid pada umumnya, azan pertama saat ibadah shalat Jumat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini menggunakan ‘Azan Pitu’, yaitu 7 orang muazin mengumandangkan adzan secara bersama. Tradisi ini konon diwariskan oleh Sunan Kalijaga, saat sang wali mengusir wabah penyakit yang dikenal dengan nama Satria Menjangan Wulung.
Kayu ukir indah bertuliskan huruf-huruf Arab yang berada di bagian depan Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Meskipun terlihat tua dan kusam, namun ukiran kayu di Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini masih memancarkan keindahan seni ukirnya yang halus.
Gentong-gentong penampung air di Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang sering digunakan Sultan untuk membasuh muka, tangan dan kaki sewaktu berwudlu, guna membersihkan diri sebelum melakukan shalat.
Pintu utama Masjid Agung Sang Cipta Rasa lazimnya hanya dibuka pada waktu Sholat Ied dan pada perayaan Maulid Nabi Muhammad. Karenanya untuk masuk ke dalam ruang utama Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini pengunjung harus melalui sebuah lubang kecil rendah yang berada di bagian samping kanan masjid dengan cara merunduk. Secara filosofis hal ini dimaksudkan agar pengunjung merendahkan diri ketika berada di lingkungan masjid. Secara praktis, lubang ini digunakan sebagai pintu kontrol untuk menarik derma dari para pengunjung.
Mihrab Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang dibuat dari batu putih dengan ornamen ukir bunga teratai yang konon dibuat oleh Sunan Kalijaga, yang menunjukkan pengaruh gaya arsitektur candi Hindu. Mimbar yang berada di samping depan mihrab ini terbuat dari kayu berukir dengan ornamen sulur-suluran.
Susunan kayu penyangga atap utama Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang berbentuk limasan susun tiga ini terlihat rumit namun rapi dan sangat indah, dan menjadi ciri khas ruang utama Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Soko Guru Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang berjumlah 12 buah dihubungkan dengan balok-balok melintang yang dikunci dengan memakai pasak.
Susunan tiang kayu penyangga di Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini mengingatkan saya pada susunan kayu pada Masjid Agung Banten Lama, meskipun keduanya memiliki pola susunan kayu yang berbeda. Di ruang shalat utama Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini terdapat 9 buah pintu yang melambangkan wali sanga, dengan 1 buah pintu utama di sisi timur, 4 pintu berukuran sedang serta 4 buah pintu lagi berukuran lebih kecil.
Di dalam ruangan utama Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini juga terdapat tempat shalat Sultan Kasepuhan dan Kanoman yang dikelilingi oleh pagar kayu seperti tampak pada foto di atas.
Susunan pilar dengan umpak berbentuk segi empat pada bagian beranda depan bangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang areanya cukup luas dan tidak berdinding.
Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang didirikan pada tahun 1489 ini pembangunannya dipimpin Sunan Kalijaga, atas permintaan Sunan Gunung Djati, dan konon melibatkan sekitar 500 orang yang berasal dari Majapahit, Demak, dan Cirebon. Pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa melibatkan pula Raden Sepat, arsitek Majapahit yang juga ikut membangun Keraton Kasepuhan.
Ketika sampai di beranda Masjid Agung Sang Cipta Rasa kemungkinan besar anda akan disapa oleh seseorang yang menawarkan jasanya untuk memandu anda berkeliling Masjid Agung Sang Cipta Rasa dan menunjukkan tempat atau benda-benda yang bersejarah. Tidak ada tarif tertentu bagi pemandu masjid ini, bergantung kemurahan hati anda saja.
Masjid Sang Cipta Rasa
Jalan Keraton Kasepuhan No. 43,Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk,
Cirebon
Tidak ada komentar:
Posting Komentar