Rabu, 24 Agustus 2011

Buntet Pesantren

Sekilas Pondok Buntet Pesantren

Buntet Pesantren adalah nama sebuah Pondok Pesantren yang umurnya cukup tua. Berdiri sejak abad ke 18 tepatnya tahun 1785. Menurut catatan sejarah seperti yang tertulis dalam buku Sejarah Pondok Buntet Pesantren karya H. Amak Abkari, bahwa tokoh Ulama yang pertama kali mendirikan Pesantren ini adalah seorang Mufti Besar Kesultanan Cirebon bernama Kyai Haji Muqoyyim (Mbah Muqoyyim).

Bermula karena beliau memiliki sikap non kooperatif terhadap penjajah Belanda waktu itu, sehingga lebih kerasan (betah) tinggal dan mengajar di tengah masyarakat ketimbang di Istana Kesultanan Cirebon. Rupanya, setelah merasa cocok bertempat tinggal di perkampungan dan memberikan dakwah keagamaan, akhirnya beliau mendirikan sebuah pondok pesantren yang cukup terekenal bernama PONDOK BUNTET PESANTREN.

Masih menurut catatan sejarah, tempat yang pertama kali dijadikan sebagai pondok pesantren Buntet, letaknya di Desa Bulak kurang lebih 1/2 km dari perkampungan Pesantren yang sekarang. Sebagai buktinya di Desa Bulak tersebut terdapat peninggalan Mbah Muqoyyim berupa makan santri yang sampai sekarang masih utuh.

Letak Pesantren
Di tempat yang sekarang ini berada, pesantren ini posisinya ada di antara dua Desa: + 80% Pesantren ini menjadi wilayah administratif Desa Mertapada Kulon dan sisanya bagian Barat milik Desa Munjul. Pesantren ini sendiri bukanlah nama Desa, melainkan hanya tempat/padepokan santri. Namun seiring dengan perkembangan zaman, dari ratusan tahun yang lalu, penduduk pesantren ini makin lama makin berkembang. Kepadatannya cukup besar.

Pesantren ini mirip sebuah desa. Justeru bila mencari Pondok Pesantren Buntet di Desa Buntet, yang letaknya bersebelahan, tidak akan ketemu, sebab letak pesantren ini di antara Desa Mertapada dan Munjul. Sebelah Utara Pesantren ini dibatasi oleh Buntet Desa; sebelah Timur Desa Mertapada (LPI); Sebelah Selatannya adalah Desa Kiliyem dan sebelah Barat adalah Desa Munjul.

Masyarakat Penghuni Pesantren
Berbeda dengan Pondok Pesantren lain, keberadaan Pesantren Buntet ini cukup unik karena komunitasnya yang homogen; antara santri dan penduduk asli pesantren ini sulit dibedakan, terutama bila dipandang oleh orang lain. Orang yang mengenal Buntet sebagai sebuah pesantren, ketika bertemu dengan salah seorang lulusan pesantren ini, dianggapnya sebagai santri sehingga kesan yang timbul adalah berdekatan dengan ilmu keagamaan dan ubudiah. Karena memang tidak bisa dipungkiri, baik penduduk asli pesantren ini ataupun santri, keberadaan sehari-hari, tidak lepas dari aktivitas nyantri (mengaji).

Setidaknya ada tiga jenis masyarakat penghuni pesantren: Pertama, masyarakat keturunan kyai. Dari catatan silsilah keturunan Kyai Buntet, hampir seluruh Kyai di Pesantren ini adalah anak cucu dari keturunan Syarif Hidayatullah, salah seorang anggota Walisongo. Kedua, Masyarakat biasa. Asal mula mereka adalah para santri atau teman-teman Kyai yang sengaja diundang untuk menetap di Buntet.

Mereka memiliki hubungan yang cukup erat bahkan saling menguntungkan (mutualism). Awalnya mereka menjadi khodim (asisten) atau teman-teman Kyai kemudian karena merasa betah akhirnya menikah dan menetap di Buntet Pesantren hingga sekarang. Penduduk Buntet Pesantren yang bukan dari turunan Kyai ini dulunya dikenal dengan istilah masyarakat Magersari. Ketiga, masyarakat santri. Merekalah yang membesarkan nama baik Buntet Pesantren.

Sebab namanya juga perkampungan santri, aktivitas sehari-hari diramaikan oleh hingar-bingar pelajar yang menuntut ilmu; siang para santri disibukkan dengan belajar di sekolah formal, dan malam harinya belajar kitab atau diskusi tentang agama di masing-masing kyai sesuai kapasitas ilmunya.
Sesepuh Buntet Pesantren
Dalam perkembangan selanjutnya, kepemimpinan Pondok Buntet Pesantren dipimpin oleh seorang Kyai yang seolah-olah membawahi kyai-kyai lainnya yang memimpin masing-masing asrama (pondokan). Segala urusan ke luar diserahkan kepada sesepuh ini.

Lebih jelasnya periodisasi kepemimpinan Kyai Sepuh ini berturut-turut hingga sekarang dipimpin oleh Kyai yang dikenal Khos yaitu KH. Abdullah Abbas (kini Almarhum), dan digantikan oleh KH. Nahduddin Abbas. Nama-nama Kyai yang dituakan dalam mengurus Pondok BuntetPesantren secara turun-termurun adalah sebagai berikut:

1. KH. Muta’ad (Periode pertama)
2. KH. Abdul Jamil
3. KH. Abbas
4. KH. Mustahdi Abbas
5. KH. Mustamid Abbas
6. KH. Abdullah Abbas
7. KH. Nahduddin Abbas (hingga sekarang)

Seiring dengan perkembangan zaman, Pondok Buntet Pesantren dengan segala potensi yang dimiliki berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan dengan memadukan antara Sistem Salafi dan Sistem Kholafi. Sistem salafi adalah metode belajar dengan berpedoman kepada literatur para ilmuan Muslim masa lalu, sedangkan sistem khalaf mengacu kepada pendidikan modern dengan kurikulum dan sistem pendidikan yang diterapkannya.

Untuk lebih mengoptimalkan ikhtiar tersebut, maka dibentuklah sebuah Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Pondok Buntet Pesantren Cirebon. Salah satu tugasnya adalah mengelola dan menyelenggarakan pendidikan formal dan non formal.

Sebab salah satu sistem yang dibangun di pesantren ini adalah bagi santri yang mondok di Buntet Pesantren diharuskan menyelesaikan pendidikan formal sebagai amanat UU Pendidikan Nasional, sesuai dengan usia pendidikannya. Mereka harus mengikuti jenjang pendidikan formal seperti SD, SLTP, SLTA hingga Universitas jika mampu. Selain itu mereka pun diwajibkan mengikuti pendidikan non formal (dirosah diniyyah) yang digelar di masing-masing asrama, atau mengikuti pendidikan khsusus yang diadakan oleh kyai-kyai sesuai spesialisasi ilmunya.

Para Almarhumin Kyai
Berturut-turut nama-nama di bawah ini adalah para kyai yang telah berkiprah lama mengurus Pondok Buntet Pesantren. Salah satu jasa beliau adalah mempertahankan sekaligus memajukan sistem pendidikan pesantren bagi generasi muda Indonesia. Para lulusan Buntet sangat kenal sekali dengan mereka. Karena itu sepantasnya untuk mengenang jasa-jasa beliau maka di bawah ini adalah nama-nama armarhumin (pendahulu) yang bisa dipelajari bagaimana riwayat kehidupannya.

KH. Abdul DJamil
KH. Abbas
KH. Ilyas
KH. Anas
KH. Yusuf
KH. Khamim
KH. Ahmad Zahid
KH. Khowi
KH. Mustahdi Abbas
KH. Mustamid Abbas
KH. Zen
KH. Murtadho
KH. Busyrol Karim
KH. Akyas Abdul Jamil
KH. Arsyad
KH. Izuddin Zahid
KH. Nasiruddin Zahid
KH. Anwaruddin Zahid
KH. Hisyam Mansyur
KH. Chowas Nuruddin
KH. Fuad Hasyim
KH. Fuad Zen
KH. Nu’man Zen
KH. Fahim Khowi
KH. Fakhruddin
 
Di Copy dari Buntet Pesantren.org

Senin, 08 Agustus 2011

Fatahillah/Falatehan II

NASKAH MERTASINGA – PERTALIAN FALATEHAN DENGAN RAJA-RAJA CIREBON ( II )

PERNIKAHAN CUCU SUNAN GUNUNG JATI 
(pupuh LVI.04 - LVI.13)
Dikisahkan Sinuhun Gunung Jati ingin mempertemukan cucu lelaki yang dari anak lelakinya dengan cucu perempuan dari anak perempuannya. Yang laki-laki yaitu Pangeran Carbon anaknya Pangeran Pasarean, sedangkan cucu perempuannya yaitu Ratu Wanawati anaknya Tubagus Pase. Walaupun keduanya belum dewasa akan tetapi atas permintaan Sinuhun keduanya segera dinikahkan.
Pada waktu itu yang menjadi saksi ialah Sunan Kalijaga dan Pangeran Makdum. Tubagus berkata, "Telah kuterima hukumnya Allah, aku nikahkan anakku yang bernama Ratu Wanawati yang masih gadis ini, untuk dipertemukan dengan cucu lelaki ayahanda yang bernama Pangeran Carbon. Dengan mas-kawinnya mempunyai anak yang kelak akan mati syahid". Sunan Gunung Jati segera mengabulkan pernikahan itu, "Aku sudah terima nikahnya cucu perempuan yang lahir dari anak perempuanku dengan cucu lelaki yang lahir dari anak lelakiku dengan mas kawinnya anak lelaki yang bersedia menjadi anak yatim".
Sinuhun lalu membaca doa yang diamini oleh semuanya. Yang hadir pada waktu itu ialah Raja Lahut, Ratu Winahon, serta dari Pajajaran datang sang uwak Rangga Pakuan [Pangeran Cakrabuana]. Kedua pengantin ini terlihat lucu sekali karena umurnya yang lelaki baru akan berusia lima tahun sedangkan yang perempuan baru akan berusia tiga tahun. Begitulah upacaranya diadakan di Mesjid Agung Carbon. Pada waktu itu yang menjadi imam di Mesjid Agung bergantian, Sinuhun Gunung Jati dan Sunan Kalijaga. Pangeran Makdum waktu itu masih menjadi Juru komat. Syekh Datuk Khapi yang azan, sedangkan yang menjadi waman ah'sanun yaitu Modin Jati, Sunan Panggung, Buyut Panjunan, Lebe Juriman dan Pangeran Janapuri, sedangkan orang yang ketujuh itu dipilih dari salah seorang santri.

PEMERINTAHAN CARBON SETELAH WAFATNYA SINUHUN GUNUNG JATI 
(pupuh LVIII.06 - LVIII.08)
Sekarang di Dalem Agung dan juga di Gunung Sembung tinggal Sunan Kalijaga sendirian yang memimpin. Tubagus Pase setiap Jumat menjadi imam dan merangkap sebagai wakil utama dari raja, sebab cucu Sinuhun, Pangeran Carbon, masih belum dewasa.  Saat itu Pangeran Carbon baru berumur enam tahun, dan yang menjadi wakil raja ialah Pangeran Makdum dan Tubagus Pase karena Sunan Kalijaga sudah tidak bersedia lagi. Di Masjid Pakungwati waktu itu yang melakukan komat ialah Syekh Datuk Khapi, karena Modin Jati sudah tidak mampu lagi. Sedangkan yang melakukan waman ah'sanun digantikan oleh Ki Syekh Badiman, dan sorog wedi-nya (pemegang kunci) masih sama seperti dahulu pada jamannya Sinuhun Jati.
[Waman ah’sanun, ungkapan bahasa Arab yang berarti “orang-orang yang terbaik”. Azan di Mesjid Agung Carbon dilakukan oleh 7 orang, waman ah’sanun ini adalah penyeru azan ke-2 hingga yang ke tujuhnya].

PANGERAN AGUNG DINOBATKAN BERGELAR PANEMBAHAN RATU 
(pupuh LXII.08 - LXII.13)
Kemudian dikisahkan, Sunan Kalijaga, Tubagus Pase, bersama Pangeran Agung kembali ke Kraton Pakungwati. Setelah sampai di Kraton lalu dirundingkan mengenai penobatan Raja Pakungwati. Maka kemudian Pangeran Agung dinobatkan menjadi penguasa di Carbon bergelar Panembahan Ratu.  Dengan demikian sepeninggal Sinuhun Aulia baru sekarang kekuasaan di Carbon dipegang lagi oleh cucunya Panembahan Ratu dan Tubagus Pase diangkat menjadi wakil raja.
Pada suatu ketika Sunan Kalijaga ingin menengok buyutnya Sinuhun Jati, yang berada di Gebang yang bernama Pangeran Prawirasuta. Dari Gebang Sunan Kalijaga pergi ke Losari untuk menengok cucu lainnya yang diangkat anak oleh Dalem Tumenggung, bernama Pangeran Wirya, yang dinobatkan dengan gelar Panembahan sebagai penguasa di Losari. Diceritakan Sunan Kalijaga dari Gebang dan Losari kembali pulang, tidak diceritakan perjalanannya wali telah tiba kembali di Pakungwati.

Catatan:
Panembahan Ratu memerintah dari tahun 1568 s/d tahun 1649, sebelumnya dari tahun 1552 s/d 1568 (setelah wafatnya Pangeran Pasarean) Kesultanan Carbon kosong dan diwakili oleh Tubagus Pase menunggu Pangeran Agung/Panembahan Ratu dewasa. Dari perkawinan Panembahan Ratu dengan Ratu Mas Pajang, anak Jaka Tingkir, Sunan Pajang, menurunkan Pangeran Dipati Carbon II/Pangeran Sedang Gayam, yang kemudian menurunkan Pangeran Girilaya yang menurunkan Pangeran Sepuh dan selanjutnya. Setelah bab diatas, naskah ini tidak lagi menceriterakan lagi mengenai Tubagus Pase, namun sumber lain menyebutkan bahwa beliau wafat pada tahun 1570 dan dimakamkan di Gunung Sembung, Cirebon.

fatahillah/Falatehan

NASKAH MERTASINGA – PERTALIAN FALATEHAN DENGAN RAJA-RAJA CIREBON ( I )

Nama Fatahillah atau Falatehan tidak terlepas dari sejarah kota Jakarta dan perlawanan bangsa ini melawan Portugis. Sejarah mencatat prestasinya merebut Sunda Kelapa dan menglahkan Portugis pada tahun 1527 dan memberikan nama baru Jayakarta atau kota kemenangan.
Sebelumnya nama Falatehan diidentikan dengan Sunan Gunung Jati, namun kemudian dengan diketemukannya bukti-bukti baru diakui bahwa dua nama ini adalah nama dari dua orang yang berbeda. Dalam naskah ini tidak tercantum nama Fatahillah atau Fallatehan namun dari jalannya kisah kita dapat mengambil kesimpulan bahwa yang dimaksud adalah tokoh dalam naskah ini yang disebut Tubagus Pase. Dalam naskah ini juga tidak dikisahkan mengenai peperangan-peperangnnya melawan penjajah, namun lebih kepada kekerabatannya dengan keluarga raja-raja Demak  dan Cirebon.

KEDATANGAN TUBAGUS PASE DI CARBON 
(pupuh LIV.08 - LIV.15)
Dikisahkan ada seseorang yang datang dari seberang, yang bernama Tubagus Pase [Pasai, sebuah kerajaan Islam di Aceh ]. Dia datang membawa bala tentara sebanyak empat puluh orang sebagai pengawalnya. Semula kedatangannya dengan maksud ingin mencoba ilmunya orang Jawa dan dia ingin tahu bagaimana pangamalan agama Islam di Carbon. Akan tetapi dengan keramatnya Sinuhun, setibanya orang seberang itu di hadapan Sinuhun Jati hilang musnah keangkuhannya. Dia datang kehadapan Sinuhun Jati dengan rendah hati dan dengan menundukan wajahnya
Dalam pertemuan ini dia melihat Ratu Ayu Dewi, yang telah menggerakan hatinya. Sinuhun mengetahui apa yang terjadi maka kemudian putrinya dipanggilnya. Semula Ratu Ayu Dewi menolak kehendak ayahandanya itu, akan tetapi setelah lama dibujuk akhirnya dia menyetujuinya. Lalu Sinuhun berkata kepada Tubagus, "He anak dari seberang, akan kuberikan anakku yang bernama Ratu Ayu Dewi, untuk menjadi istrimu dengan mas-kawinnya anak dari yang telah mati syahid itu". [Dalam bab sebelumnya telah dikisahkan mengenai Ratu Ayu Dewi sebagai janda dari Sunan Demak II – Pangeran Sabrang Lor].
Tubagus menyetujuinya dan berkata, "Ayahanda, hamba setuju nikahnya sang puteri dengan mas kawin seperti apa yang telah disebutkan yakni memperoleh anak yang ditinggal mati syahid". Dengan disaksikan oleh para Aulia, pernikahan Tubagus berlangsung sudah. Tidak diceritakan lamanya, kemudian mereka mempunyai anak perempuan yang amat cantik yang diberi nama Ratu Ayu Wanawati. Anak yang amat dikasihi oleh ayahandanya, Tubagus Pase. Bilamana Tubagus Pase pergi berlayar menengok sanak keluarganya, maka dari tanah seberang Tubagus Pase pulangnya diiringi oleh burung dari tanah Pasai, yaitu Burung Pasai, yang  konon di tanah Jawa masih serumpun dengan burung Kokok Beluk [Burung Hantu, burung Elang malam, keluarga Strigiformes].

ANAK KETURUNAN TUBAGUS PASE DARI RATU AYU WANGURAN
 (pupuh XXXV.20 - XXXV.23)
Begitulah dikisahkan anak Sinuhun Jati yang bernama Ratu Ayu Wanguran, istri almarhum Sultan Demak (II) berada kembali di Carbon dengan membawa warisan berupa Gamelan Sokati, itulah asal mulanya keberadaan gamelan tersebut di Carbon. Pada suatu ketika ada seorang pendatang dari negara Pasai yang bernama Tubagus, yang konon menurut ceritera darahnya berwarna putih. Dia kemudian diangkat mantu oleh Sinuhun dengan putrinya yang telah menjadi janda dari Sultan Demak itu. Setelah berkumpul para wali, segera dilangsungkan pernikahan anaknya dengan Tubagus Pasai. Dikisahkan kemudian Tubagus Pase dengan Ratu Ayu mempunyai anak lima  orang yaitu :
1.       Anak sulung, perempuan yang bernama Ratu Wanawati, yang kemudian menikah dengan saudara misannya bernama Pangeran Dipati. Kelak mempunyai anak yang bergelar Panembahan Ratu, Panembahan yang waktu mudanya bernama Pangeran Agung.
     2.      Ratu Nyawa.
     3.      Pangeran Agung.
     4.      Ratu Sewu.
     5.      Ratu Agung.

Catatan:
Tubagus Pase, atau yang kemudian dikenal sebagai Falatehan atau Fatahillah, pernikahannya dengan anak Sunan Gunung Jati, Ratu Ayu Wanguran, janda Sultan Demak (II) menjadikannya ‘ipar’ dari Sultan Demak (III) sebagaimana disebutkan dalam catatan-catatan  Portugis. Sebagaimana juga disebutkan dalam catatan Portugis, dia pun menjadi penguasa Carbon ketika mewakili cucunya sebelum menginjak dewasa. Keturunan dari Tubagus Pase dengan Ratu Ayu Wanguran ini lah yang menurunkan raja-raja Carbon selanjutnya

Minggu, 07 Agustus 2011

Naskah Mertasinga


 PANGERAN BANTEN 

MENOBATKAN DIRI MENJADI SULTAN

(NASKAH MERTASINGA)

PANGERAN BANTEN MENOBATKAN DIRI MENJADI SULTAN 
(pupuh LXX.20 - LXXI.11)
Kita tinggalkan kisah di Pakungwati, dikisahkan lagi keturunan wali dari Banten yang bernama Pangeran Kenari. Sang Pangeran pergi ke tanah Arab untuk naik haji ke Baitullah. Sekembalinya dia mendapat ijin dari Sultan Mekah untuk bertahta sebagai raja di negara Banten, serta diberi pakaian pusakanya Nabi Ibrahim. Setibanya di Banten, Pangeran lalu mengumpulkan sanak keluarganya, para kaum dan para sentana. Kemudian  Pangeran mengangkat dirinya menjadi raja di Banten.
Sultan Mataram mendengar hal tersebut menjadi sangat murka dan tidak dapat menerima pengangkatan tersebut. Di Jawa setiap pengangkatan menjadi Sultan itu harus dengan ijin dari Mataram, kalau tidak maka dia akan diperangi oleh Mataram. Sultan Banten pun sudah bersiap-siap menyambut serbuan Mataram karena Banten tidak mau tunduk kepada Mataram. Kemudian terjadilah peperangan yang lama, berlangsung selama beberapa tahun antara Banten dengan Mataram.
Kemudian ada seseorang yang dapat mendamaikan peperangan ini, dia adalah seorang Belanda yang bernama Kapten Morgel . Dalam perdamaian itu Mataram mau mengakui pengangkatan itu dan sebagai imbalannya Banten harus mengirimkan tugur, pasukan penjaga, ke Mataram setiap tahun. Pasukan ini bergantian datang ke Mataram untuk tugas jaga. Setelah tercapai perdamaian itu ternyata Kapten Morgel meminta upah berupa daerah, upah untuk jasanya yang telah mendamaikan orang perang itu. Dia minta diberi daerah di tanah Betawi. Atas permintaan itu baik Sunan Banten dan Mataram keduanya menyetujuinya. Itulah awal adanya orang Belanda di Betawi yang kemudian mengatur dan mengurus para raja di Jawa .
Masuknya Belanda itu bagaikan racun yang menyusup ke tanah Jawa. Para raja Jawa belum sadar bahwa dalam tubuhnya telah masuk racun itu yang kemudian akan merusaknya. Belanda mencari kesempatan untuk malang melintang dan mengatur raja-raja di Jawa itu merupakan warisan dari leluhurnya. Dahulu Dewi Mandapa, anak raja Pajajaran yang terakhir, yang tak mau masuk agama Islam, anaknya bernama Dewi Tanuran Gagang tinggal di Pulau Inggris. Tanurang Gagang itu bercampur dengan orang kulit putih dan sekarang sudah sampai pada buyutnya, yaitu yang diceritakan bernama Kapten Morgel yang datang minta kedudukan di tanah Jakarta. Dia terikat oleh warisannya yang dahulu, melanjutkan kekuasaan negara Pakuan dan akan mengusik raja-raja Jawa di kemudian hari.
Di Banten mulai ada Sultan yaitu pada babad jaman 1519 (1597 M.), pada waktu itulah awal bertahtanya  keturunan raja wali di Banten. Sultan Agung Kanantun lalu ingin membangun Mesjid Agung. Nama kaumnya yaitu Kyai Abdul Mahmud, Kyai Abdul Al Mapakir dan Abdul Al Kodariyah, mesjidnya dibangun tepat pada babad jaman 1532 (1610 M.), sebuah mesjid yang indah. Adapun awalnya keberadaan orang Belanda di Betawi, yang bernama Kapten Morgel, yaitu pada babad jaman 1530 (1608 M.).
Adapun di Carbon pada waktu itu Panembahan masih berada di bawah pengawasan Mataram. Walaupun demikian sebagai keturunan dari raja wali, dalam hatinya sang Panembahan selalu bersyukur, dan keadaan Carbon pun masih makmur. Pada waktu itu belum ada orang Belanda ataupun orang Cina, tembok kota Carbon masih berdiri dengan kokoh.

CATATAN:
1.      Pangeran Kenari atau Pangeran Kanantun, Sultan Agung Kanantun (1596 – 1651).          
2.      Kapten Morgel. Tokoh ini tidak dikenal dalam sejarah. Nama ini merupakan nama traditional untuk Gubernur-gubernur Jendral Hindia Belanda. Panggilan ini berasal dari kata Kapten Mur, yang asalnya dari bahasa Portugis Capitao Mor, yang berarti panglima tertinggi. Dalam babad ini tokoh Kapten Morgel hadir sejak tahun 1608, yaitu yang dikisahkan menyelesaikan perselisihan antara Banten dengan Mataram sehingga sebagai upahnya dia memperoleh daerah di Jakarta. Tokoh Kapten Morgel ini masih berkuasa sebagai Gubernur Jendral pada masa pemerintahan Sultan Kasepuhan ketika diminta bantuan oleh Pangeran Emas untuk dinobatkan menjadi Sultan Kacarbonan (lihat bab XXXII). Mungkin, diciptakannya tokoh Kapten Morgel ini adalah sebagai panggilan umum untuk penguasa Belanda atau seperti yang dikatakan oleh Prof. Hoesein Djajadiningrat, yaitu sebagai "pengesahan" atas penguasaan Belanda atas raja-raja Jawa karena tokoh "Kapten Morgel" itu dimitoskan sebagai keturunannya raja Pajajaran yang menuntut balas.
Kedatangan Belanda dan VOC. Sekitar tahun 1600 kapal dagang Belanda dibawah pimpinan Cornelis de Houtman mendarat di  pelabuhan Banten. Dimana kemudian mereka tinggal dari tahun 1596 - 1598. Kemudian  VOC didirikan Belanda dan mengangkat Peter Both sebagai Gubernur Jendral  untuk  Timur Jauh dan Jan  Piterzoon  Coen  sebagai Gubernur Jendral  di Jawa. Pada tahun 1618  dia  datang  ke Jakarta dan menghadap kepada Pangeran Jaketra untuk  memperoleh izin mendirikan gudang dan benteng di Jaketra.
3.      Pagarage. Sejarah Banten memberitakan adanya percobaan Carbon untuk menaklukan Banten yang konon terjadi pada tahun 1650, yang dikenal sebagai Pagarage. Menurut sumber diatas, di Banten datang dua orang utusan dari Carbon yang bertujuan untuk membujuk Sultan Banten supaya bersama Carbon mau menghadap Mataram. Akan tetapi jawaban yang mereka peroleh adalah "Sultan Banten tidak mau mengakui raja manapun diatasnya selain Sultan Mekkah yang sering mengirimkan surat kepadanya berisi pelajaran-pelajaran yang berhikmah". Selanjutnya sejarah mencatat perang antara Carbon dan Banten pada tanggal 22 Desember 1650, yaitu pada masa pemerintahan Panembahan Girilaya dimana Carbon mengalami kekalahan. Kemungkinan ketidak berhasilan Carbon untuk membujuk dan kemudian memaksa Banten ini yang menyebabkan turunnya kredibilitas Panembahan Girilaya di mata Amangkurat-I. Disamping itu kemungkinan pertempuran ini pula yang menyebabkan menjadi renggangnya hubungan antara kedua keturunan Sunan Gunung Jati ini, sehingga Banten tidak mengambil tindakan pada waktu Panembahan Girilaya diculik dan dibunuh di Mataram pada tahun 1662, dan baru mengambil tindakan setelah 16 tahun kemudian.

Kamis, 04 Agustus 2011

Masjid Sang Cipta Rasa

Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Masjid Agung Sang Cipta RasaMasjid Agung Sang Cipta Rasa lokasinya berada sekitar 100 meter sebelum pintu masuk ke Keraton Kasepuhan Cirebon, di sebelah kanan jalan. Di seberang Masjid Agung Sang Cipta Rasa terdapat deretan warung-warung sederhana yang menjual bermacam makanan dan minuman pemuas lapar dan dahaga. Bangunan tertinggi Keraton Kasepuhan kabarnya tidak boleh lebih tinggi dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini.
Pada saat awal pembangunan Masjid Agung Demak, adalah Sunan Gunung Jati yang memohon izin kepada para wali lainnya untuk membuat pasangan Masjid Agung Demak itu di Kota Cirebon. Jika Masjid Agung Demak dikatakan memiliki watak maskulin, maka Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini dikatakan memiliki sifat feminin.
Masjid Agung Sang Cipta Rasa
Gapura depan Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang terbuat dari susuan batu bata merah bergaya Majapahitan. Atap Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini berbentuk limasan dan tanpa mahkota masjid pada puncak bangunannya, tidak sebagaimana masjid wali lainnya yang beratap tajug atau piramid susun berjumlah ganjil.
Masjid Agung Sang Cipta Rasa
Tiang di sebelah kanan yang disangga pelat baja adalah salah satu soko guru Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang kabarnya dibuat oleh Sunan Kali Jaga dari tatal atau serpihan kayu yang disatukan.
Masjid Agung Sang Cipta Rasa
Bagian beranda samping Masjid Agung Sang Cipta Rasa dengan tiang-tiang kayu berukir pada bagian atasnya yang terlihat sudah sangat tua. Berbeda dengan tradisi masjid pada umumnya, azan pertama saat ibadah shalat Jumat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini menggunakan ‘Azan Pitu’, yaitu 7 orang muazin mengumandangkan adzan secara bersama. Tradisi ini konon diwariskan oleh Sunan Kalijaga, saat sang wali mengusir wabah penyakit yang dikenal dengan nama Satria Menjangan Wulung.
Masjid Agung Sang Cipta Rasa
Kayu ukir indah bertuliskan huruf-huruf Arab yang berada di bagian depan Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Meskipun terlihat tua dan kusam, namun ukiran kayu di Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini masih memancarkan keindahan seni ukirnya yang halus.
Masjid Agung Sang Cipta Rasa
Gentong-gentong penampung air di Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang sering digunakan Sultan untuk membasuh muka, tangan dan kaki sewaktu berwudlu, guna membersihkan diri sebelum melakukan shalat.
Masjid Agung Sang Cipta Rasa
Pintu utama Masjid Agung Sang Cipta Rasa lazimnya hanya dibuka pada waktu Sholat Ied dan pada perayaan Maulid Nabi Muhammad. Karenanya untuk masuk ke dalam ruang utama Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini pengunjung harus melalui sebuah lubang kecil rendah yang berada di bagian samping kanan masjid dengan cara merunduk. Secara filosofis hal ini dimaksudkan agar pengunjung merendahkan diri ketika berada di lingkungan masjid. Secara praktis, lubang ini digunakan sebagai pintu kontrol untuk menarik derma dari para pengunjung.
Masjid Agung Sang Cipta Rasa
Mihrab Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang dibuat dari batu putih dengan ornamen ukir bunga teratai yang konon dibuat oleh Sunan Kalijaga, yang menunjukkan pengaruh gaya arsitektur candi Hindu. Mimbar yang berada di samping depan mihrab ini terbuat dari kayu berukir dengan ornamen sulur-suluran.
Masjid Agung Sang Cipta Rasa
Susunan kayu penyangga atap utama Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang berbentuk limasan susun tiga ini terlihat rumit namun rapi dan sangat indah, dan menjadi ciri khas ruang utama Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Soko Guru Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang berjumlah 12 buah dihubungkan dengan balok-balok melintang yang dikunci dengan memakai pasak.
Masjid Agung Sang Cipta Rasa
Susunan tiang kayu penyangga di Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini mengingatkan saya pada susunan kayu pada Masjid Agung Banten Lama, meskipun keduanya memiliki pola susunan kayu yang berbeda. Di ruang shalat utama Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini terdapat 9 buah pintu yang melambangkan wali sanga, dengan 1 buah pintu utama di sisi timur, 4 pintu berukuran sedang serta 4 buah pintu lagi berukuran lebih kecil.
Masjid Agung Sang Cipta Rasa
Di dalam ruangan utama Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini juga terdapat tempat shalat Sultan Kasepuhan dan Kanoman yang dikelilingi oleh pagar kayu seperti tampak pada foto di atas.
Masjid Agung Sang Cipta Rasa
Susunan pilar dengan umpak berbentuk segi empat pada bagian beranda depan bangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang areanya cukup luas dan tidak berdinding.
Masjid Agung Sang Cipta Rasa
Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang didirikan pada tahun 1489 ini pembangunannya dipimpin Sunan Kalijaga, atas permintaan Sunan Gunung Djati, dan konon melibatkan sekitar 500 orang yang berasal dari Majapahit, Demak, dan Cirebon. Pembangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa melibatkan pula Raden Sepat, arsitek Majapahit yang juga ikut membangun Keraton Kasepuhan.
Ketika sampai di beranda Masjid Agung Sang Cipta Rasa kemungkinan besar anda akan disapa oleh seseorang yang menawarkan jasanya untuk memandu anda berkeliling Masjid Agung Sang Cipta Rasa dan menunjukkan tempat atau benda-benda yang bersejarah. Tidak ada tarif tertentu bagi pemandu masjid ini, bergantung kemurahan hati anda saja.

Masjid Sang Cipta Rasa

Jalan Keraton Kasepuhan No. 43,
Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk,
Cirebon

Masjid Merah Panjunan

Masjid Merah Panjunan

Masjid Merah PanjunanMasjid Merah Panjunan merupakan sebuah masjid berumur sangat tua yang didirikan pada 1480 oleh Syarif Abdurrahman atau Pangeran Panjunan, seorang keturunan Arab yang memimpin sekelompok imigran dari Baghdad, dan kemudian menjadi murid Sunan Gunung Jati. Masjid Merah Panjunan terletak di sebuah sudut jalan di Kampung Panjunan, kampung dimana terdapat banyak pengrajin keramik atau jun.
Masjid Merah Panjunan
Tampak muka Masjid Merah Panjunan yang terbuat dari susunan batu bata merah yang pintu gapuranya memperlihatkan pengaruh Hindu dari jaman Majapahit yang banyak bertebaran di daerah Cirebon. Papan tengara yang terlihat pada foto menunjukkan bahwa Masjid Merah Panjunan ini telah dimasukkan sebagai sebuah Benda Cagar Budaya.
Masjid Merah Panjunan
Gapura Masjid Merah Panjunan yang susunan bata warna merahnya memberikan nama tengah kepada masjid ini. Adalah Panembahan Ratu yang merupakan cicit Sunan Gunung Jati yang membangun tembok keliling Masjid Merah Panjunan yang terbuat dari bata merah setinggi 1,5 m dan ketebalan 40 cm pada tahun 1949.
Masjid Merah Panjunan
Inilah ruangan utama dan satu-satunya di Masjid Merah Panjunan, yang langit-langitnya ditopang oleh lebih dari lima pasang tiang kayu. Umpak pada tiang penyangga juga memperlihatkan pengaruh kebudayaan lama. Sementara keramik yang menempel pada dinding memperlihatkan pengaruh budaya Cina dan Eropa di masjid yang semula bernama al-Athyah ini.
Masjid Merah Panjunan
Adalah karena adanya mihrab yang membuat bangunan Masjid Merah Panjunan ini menjadi terlihat seperti sebuah masjid, serta adanya beberapa tulisan berhuruf Arab pada dinding. Beberapa keramik buatan Cina yang menempel pada dinding konon merupakan bagian dari hadiah ketika Sunan Gunung Jati menikah dengan Tan Hong Tien Nio.
Masjid Merah Panjunan
Mungkin hanya ada di Cirebon bahwa sebuah bangunan masjid seperti Masjid Merah Panjunan ini pada bangunan mihrabnya, yaitu bagian yang menunjukkan arah kiblat, dihiasi dengan keramik yang indah. Lengkung pada mihrab pun yang berbentuk Paduraksa juga memperlihatkan pengaruh budaya lama.
Masjid Merah Panjunan
Sepasang pintu kayu kecil terdapat di ujung mihrab Masjid Merah Panjunan. Entah apa yang ada di balik pintu itu, karena tak terpikir untuk masuk ke dalamnya ketika itu. Menariknya, selain keramik Cina juga terdapat keramik buatan Belanda yang menempel pada dinding Masjid Merah Panjunan ini.
Masjid Merah Panjunan
Salah satu keramik yang halus dan indah pada dinding bata Masjid Merah Panjunan, bergambar burung merak yang tengah memamerkan bulu-bulu indahnya di bagian tengah dan kiri-kanan piring, seekor singa melangkah anggun yang salah satu kakinya menginjak ular, dua buah naga bersungut empat melingkar piring, serta motif bunga di sana sini.
Masjid Merah Panjunan
Tidak ada tulisan kaligrafi Arab indah yang berbunyi Allah dan Muhammad di tembok kiri dan kanan depan Masjid Merah Panjunan, sebagaimana banyak dijumpai pada bangunan masjid lain. Di Masjid Merah Panjunan, tulisan itu terdapat di bagian atas mihrab di dalam sebuah kotak kecil berbentuk wajik.
Masjid Merah Panjunan
Yang menarik pada pilar Masjid Merah Panjunan adalah bentuk pilar bulat dengan umpak yang juga berbentuk bulat hanya terdapat di baris depan, yang tampaknya berfungsi sebagai Soko Guru, yang pada kebanyakan bangunan tradisional lain diletakkan dalam posisi segi empat. Pilar kayu lainnya berbentuk segi empat sebagaimana bentuk umpaknya.
Masjid Merah Panjunan
Seorang jamaah tampak tengah melakukan rukuk di mihrab Masjid Merah Panjunan. Jika jeli, anda akan bertanya-tanya dimana mimbar Masjid Merah Panjunan berada. Di Masjid Merah Panjunan ini memang tidak ada mimbar, karenanya hanya digunakan untuk sholat sehari-hari, tidak untuk ibadah sholat Jumat, atau sholat berjamaah di Hari Raya Islam.
Masjid Merah Panjunan
Belandar dan bagian dalam atap Masjid Merah Panjunan yang diunggah belakangan, atas permintaan mas Agus Saidi, dengan susunan kayu simetris dan blandar segi empat yang meramping di bagian tengah dengan ornamen daun di tepiannya.
Masjid Merah Panjunan
Beduk dan kentongan Masjid Merah Panjunan yang terletak di sebelah kiri ruangan, bersebelahan dengan sebuah makam yang tidak diketahui siapa penghuninya. Sebuah papan berisi peringatan untuk memelihara situs Masjid Merah Panjunan dan ancaman hukuman bagi yang melanggarnya terlihat tergeletak menempel ke tembok. Ini karena beberapa keramik pada dinding Masjid Merah Panjunan pernah hilang dicongkel orang.
Meskipun pendiri Masjid Merah Panjunan adalah seorang keturunan Arab, dan Kampung Panjunan adalah merupakan daerah permukiman warga keturunan Arab, namun pengaruh budaya Arab terlihat sangat sedikit pada arsitektur bangunan Masjid Merah Panjunan ini. Barangkali ini adalah sebuah pendekatan kultural yang digunakan dalam penyebaran Agama Islam pada masa itu.
Hanya berjarak kurang dari 50 meter dari Masjid Merah Panjunan (lihat peta) terdapat warung Mie Koclok Panjunan yang sangat nikmat rasanya di lidah saya. Anda harus mampir ke warung ini untuk merasakan kelezatan masakan mie koclok khas Cirebon yang sangat unik sebelum meninggalkan daerah Panjunan.

Masjid Merah Panjunan

Desa Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk
Cirebon

Selasa, 02 Agustus 2011

Perang Kedondong

Peristiwa Sangat bersejarah itu terjadi dalam rentang waktu 1793-1808 masehi dengan daerah sepanjang pantai utara jawa barat sampai brebes, tujuh belas tahun sebelum pecah Perang Diponegoro yang oleh Belanda, disebut sebagai Perang Jawa.

Syahdan, karena menolak tunduk terhadap tekanan pemerintah kolonial Belanda, Pangeran Raja Kanoman memilih melepaskan takhta kesultanan. Haknya sebagai sultan di lepas begitu saja. Putra mahkota Sultan Kanoman IV itu keluar dari keraton, lalu bergabung dengan rakyat Cirebon yang menentang Belanda.

Alhasil, perlawanan rakyat Cirebon dalam menolak pajak paksa yang diterapkan Belanda kian sengit. Di sana-sini terjadi pemberontakan. Belanda kewalahan menghadapinya dan mengalami kerugian yang sangat besar. Secara materiil, sedikitnya Belanda menderita kerugian 150.000,00 Gulden. Ribuan prajuritnya pun tewas.

Untuk meredam pemberontakan itu, Belanda sampai harus menjalin aliansi militer strategis dengan Portugis. Ribuan prajurit Belanda dan Portugis tambahan didatangkan.Mereka diangkut dengan menggunakan enam kapal perang besar dan mendarat di Pelabuhan Muara Jati, Cirebon.

Kedatangan ribuan prajurit tambahan itu, tidak membuat rakyat Cirebon gentar. Pangeran Raja Kanoman itu justru makin menggencarkan perlawanan. Salah satu perang besar sekaligus monumental ialah Perang Kedondong ini, terjadi si salah satu daerah di Kecamatan Susukan, di perbatasan Kabupaten Cirebon-Indramayu. Ribuan korban jatuh dari kedua belah pihak. Dari pihak rakyat, perang itu dipimpin oleh Raden Bagus Serangin.

Kecamuk Perang Kedondong, bahkan ditulis dengan gaya naratif-deskriptif oleh prajurit Belanda bernama Van Der Kamp. Buku Van Der Kamp itu, bahkan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ejaan lama 1952. Naskah aslinya ditulis dalam bahasa Belanda dan tersimpan rapi di perpustakaan di Negeri Kincir Angin itu.

Dalam pemberontakan itu, melalui siasat licik Belanda, Pangeran Raja Kanoman tertangkap. Setelah sempat ditahan di benteng Belanda di Batavia (Jakarta), sultan pemberani itu kemudian ditahan di benteng Viktoria, di Ambon, Maluku. Sebelum dibuang ke Ambon, Belanda telah melucuti seluruh gelar darah birunya. Putra mahkota itu dicabut haknya atas takhta sultan di Keraton Kanoman.

Peristiwa bersejarah itu terjadi dalam rentang waktu 1793-1808 masehi, tujuh belas tahun sebelum pecah Perang Diponegoro yang oleh Belanda, disebut sebagai Perang Jawa.

" Perang Diponegoro dipicu persoalan pribadi, karena Belanda memasang patok di makam raja-raja Mataram "

Sedangkan pemberontakan rakyat Cirebon yang melibatkan Pangeran Raja Kanoman, itu murni perlawanan rakyat terhadap penindasan Belanda. Putra mahkota itu menolak menjadi sultan, karena tidak mau tunduk kepada Belanda yang menarik pajak paksa kepada rakyat Cirebon.

Kenapa yang tercatat dalam sejarah nasional, hanya Perang Diponegoro? 

Perang Cirebon seolah-olah hanya menjadi sejarah lokal dan tak berarti ?
 

meski Pangeran Raja Kanoman dibuang ke Ambon, perlawanan rakyat Cirebon justru kian menjadi-jadi. Setiap hari selalu ada penyerangan terhadap prajurit maupun pembakaran rumah-rumah dan bangunan, yang menjadi simbol kekuasaan Belanda di Kota Cirebon.

Belanda makin kewalahan. Para petinggi Belanda memerintahkan agar Pangeran Raja Kanoman dikembalikan ke Cirebon. Melalui para pimpinan pemberontak, Belanda meminta syarat: bila Pangeran Raja Kanoman dikembalikan, pemberontakan dihentikan. Sebagai jalan tengah, status darah biru Pangeran Raja Kanoman dikembalikan. Kendati demikian, dia tak berhak atas kesultanan di Keraton Kanoman.

Belanda memang menepati janjinya. Hak darah biru Pangeran Raja Kanoman dipulihkan. Hanya, putra mahkota itu diminta membuat keraton baru dan kasultanan baru, yang bukan di Keraton Kanoman. Pada 1808, Pangeran Raja Kanoman memilih tinggal di kompleks Gua Sunyaragi di daerah Sentul (kini Jln. By Pass Brigjen Dharsono). Pangeran itu kemudian bergelar Sultan Amiril Mukminin Muhammad Khaerudin atau sering disebut sebagai Sultan Carbon.

Meski menjadi raja, Sultan Carbon tidak pernah memiliki keraton. Dia hidup sederhana bersama istrinya, Ratu Raja Resminingpuri. Sikap tegasnya tetap berlaku, dengan menolak uang pensiun dan seluruh pemberian dari Belanda. Pada 1814, Sultan Carbon mangkat.

Karena putra lelakinya masih berusia lima tahun, bernama Pangeran Raja Madenda, Kesultanan Carbon diwakili (volmak) janda Sultan Carbon, Ratu Raja Resminingpuri. Pada saat itulah, Ratu Raja membangun Keraton Kacirebonan di Pulosaren, tak jauh dari Keraton Kasepuhan dan Kanoman, dengan memanfaatkan uang pensiunan dari Belanda yang selama menjadi Sultan Carbon selalu ditampiknya. Setelah besar, mahkota diserahkan kepada putranya yang bergelar Pangeran Raja Madenda I.
( Cerita banyak diambil dari berbagai sumber sejarah cirebon, tokoh dan buku )
 

SALAM RAHAYU BERKAH SELAMAT, ANDUNG BASUKI  ANDUNG WALUYA JATI

Koleksi Kereta Kraton


Koleksi Kereta Keraton Kasepuhan

Koleksi Kereta Keraton Kasepuhan (Foto diambil dari Facebook Pra Arief Natadiningrat).






















































Ksenian Cirebon

Menyelami Kesenian Cirebon

Oleh: P.R.A. Arief Natadiningrat, S.E, M.M.


PRA Arief Natadiningrat

PRA Arief Natadiningrat
(Sultan Cirebon)

LETAK geografis Cirebon yang berada di persimpangan jalan dari berbagai jurusan, menyebabkan kebudayaan di Kota Pesisir ini terkesan tindih-menindih. Salah satu yang amat membekas yakni pengaruh kebudayaan Hindu, baik yang tumbuh di Jawa (Hindu-Jawa) maupun di Sunda (Hindu-Sunda). Indikasi ini misalnya terlihat dari lambang Keraton berupa Harimau putih, yang menurut catatan sejarah merupakan peninggalan dari Kerajaan Hindu-Sunda.
Kalau kita cermati dinamika yang terjadi dalam kebudayaan (baca: kesenian) Cirebon, akan tampak perwujudan persembahan rakyat pada cara kehidupan keagamaan. Sejarah mencatat, sebelum kebudayaan Hindu masuk penduduk Pulau Jawa — termasuk juga Cirebon — memuja segala manifestasi alam yang mereka lihat sekitarnya seperti tumbuh-tumbuhan, batu karang dan laut, juga sungai, gunung, angin dan topan yang sekali-kali mengganggu kehidupan mereka.
Mereka percaya bahwa segala manifestasi alam ini mempunyai roh sendiri, umpamanya roh nenek moyang mereka yang selalu hadir dan mengamati mereka, yang menjadi penjaga kehidupan dan kesehatan. Dengan demikian, bagi orang-orang pra — Hindu semua kesenian bahkan dekorasi pada benda-benda fungsional merupakan perwujudan kepercayaan agama.
Makna spiritual
Benda-benda kesenian pada masa dulu dipandang memiliki nilai spiritual tertentu atau memiliki makna keagamaan yang tinggi. Lebih dari itu, benda-benda kesenian tersebut sudah diposisikan terhormat bahkan sebelum mewujud sebagai benda tertentu. Dengan kalimat lain, dari bahan dan tehnik pembuatannya pun sudah mempunyai makna spiritual.
Lambang-lambang khas yang dipakai untuk menghiasi benda kesenian tersebut mempunyai makna keagamaan pula. Pola-pola abstrak seperti bentuk swastika atau wajik, begitu juga bentuk-bentuk naturalis seperti ragam hias pohon hayat dan bentuk batu karang yang bergaya khas yang dinamakan Wadas, merupakan semua lambang kehidupan kerohanian dan organis dan berasal dari masa sebelum kebudayaan Hindu masuk di pulau Jawa.
Eksistensi kesenian — berikut benda-benda seninya — ternyata banyak bermanfaat dalam proses penyebaran agama Islam. Wali Sanga misalnya, para Wali ini menggunakan jalur-jalur kesenian untuk mencapai hati nurani rakyat.
Hal ini tampak pada strategi yang dilakukan Sunan Kalijaga. Beliau menyesuaikan bentuk-bentuk kesenian tradisional kepada kebutuhan rohaniah dan artistik dari masyarakat muslim baru, dan menyatukannya dengan lambang dan ungkapan baru.
Musik, lagu, dan tari, seni lukis, seni pahat dan arsitektur telah mencapai dimensi-dimensi baru. Karena itu tidaklah mengherankan bahwa salah satu Masjid tertua di Jawa yaitu Masjid Agung Cirebon, bentuknya masih berdasarkan peraturan-peraturan bangunan Jawa Kuno. Begitu juga tidaklah mengherankan bahwa pada perayaan Maulid Nabi, perayaan Idul Fitri dan Idul Adha masih terdengar suara gamelan sekaten, yang berasal dari masa pra-Islam, yang telah mendapat nama baru, yang mungkin berakar dalam kata hahadati.
Gambaran menjadi lebih jelas lagi kalau mengamati pola dan ragam hias serta desain Cirebon serta mengungkapkan suatu sintesa yang menarik dari berbagai bentuk kebudayaan dan filsafat.
Di zaman Hindu patung dan lukisan merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari kuil, dan melukiskan wujud agama serta lambang kepercayaan Hindu. Pola-pola semacam ini sekarang dapat dilihat antara lain dalam batik Cirebon dan juga dalam segala corak kesenian Cirebon yang dipengaruhi oleh persentuhan dengan kebudayaan asing lainnya, yang lambat laun diserap dalam kesenian Cirebon Hindu.
Kedatangan agama Islam dengan pola-pola baru dan anjuran agar tidak melukiskan segala bentuk manusiawi dan hewani, justru memperkaya imajinasi para seniman zaman dulu. Anjuran ini tidak selalu ditaati, tradisi kuno dipertahankan dan diperkaya dengan pola yang berciri Timur Tengah, Persia dan India. Sebagai contoh dapat disebut desain Singa Putih, suatu ragam hias yang berkali-kali muncul kembali, yang sebetulnya berasal dari harimau putih, tetapi yang lambat laun berubah menjadi Singa Persia, atau malah Singa Tiongkok.
Ragam hias
Sekitar tahun 30-an, Keraton Cirebon menghadiahkan sebuah umbul-umbul yang sangat megah kepada Pangeran Mangkunegoro di Solo. Umbul-umbul tersebut dipakai dalam upacara keagamaan kini tergantung di musium Tekstil Jakarta. Benda inipun merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari tradisi kesenian itu.
Di sana digambarkan seekor macan putih dari Cirebon yang dikelilingi oleh kutipan ayat-ayat al-Quran dalam tulisan Arab. Harimau ini sangat mirip dengan singa Iran, dan menjadi lambang Ali, keponakan Nabi Muhammad saw yang disebut Singa Allah dan menjadi pelindung khusus dan tarekat kaum seniman. Singa ini juga merupakan salah satu pola utama dalam kaligrafi Islam, umbul-umbul dipakai sebagai penolak bala.
Style ini kemudian diserap lagi dalam campuran ragam hias yang merupakan ciri khas kesenian dekoratif Cirebon; suatu sintesa yang sungguh-sungguh dari semua ragam kesenian yang diketahui sejak dahulu kala, tepatnya zaman kerajaan dari Pantai Utara Jawa, melalui masa Hindu dan Islam, termasuk pengaruh Cina dan Eropa di zaman yang lebih dekat lagi. Dari kolaborasi inilah seringkali kita saksikan suatu campuran ragam hias dengan corak Hindu, Persia atau Tiongkok yang ditambah dengan kaligrafi Islam. Campuran yang aneh ini seringkali muncul dalam cabang kesenian seperti pahatan kayu dan lukisan di atas kaca.
Selain di atas kaca, pada seni rupa Cirebon juga terdapat seni melukis langsung di atas kain atau dengan mempergunakan suatu proses aplikasi daun emas. Teknik ini ternyata sangat tua dan rupanya berasal dari India. Lukisan-lukisan yang terdapat pada relief-relief Borobudur memperlihatkan penggunaan penutup tubuh seremonial dengan gambar-gambar tersebut di atas. Di Bali pun kita lihat sekarang contoh pakaian upacara dengan aplikasi emas yang dipakai oleh para penari. Begitupun dalam kuil-kuil nampak kain bertulis dan almanak yang menghiasi rumah orang. Orang berpendapat bahwa bentuk seni ini dulu juga ada di Cirebon, dan memainkan peranan besar, baik teknik, maupun desainnya, dalam pertumbuhan perkembangan teknik batik Cirebon yang khas.
Pada bagian lain, kita pun bisa menyelami teknik membatik, yaitu teknik mencetak atau melukis kain dengan cara menutup sebagian dari kain dengan malam atau perekat yang dibuat dari beras dan bahan lain sudah sangat tua umurnya dan seperti juga patung dari batu atau kayu, pada asalnya merupakan sebagian dari upacara tradisional. Tetapi kain lekas punah dan karena itu kini tidak ada lagi peninggalannya.
Dalam konteks Cirebon, banyak terdapat gaya-gaya dengan pola-pola yang berani, berbentuk liong, singa, gajah, mega mendung, wadas, tumbuh-tumbuhan menjalar serta ayam jago yang berkokok. Kebanyakan motif ini merupakan lambang yang dipuja, yang menunjukan kekuatan jantan dan keberanian, malah kadang-kadang keagresifan, petunjuk tentang suatu bangsa yang ingin memperkenalkan kehadirannya setelah begitu lama diterlantarkan oleh dunia luar.
Pahatan kayu, kain penghias dinding, tekstil, musik, tarian dan masakan-masakan, semua bentuk kesenian di Cirebon ini telah mencapai mutu keindahan dan keluwesan dan memperlihatkan tanda yang sama bahwa kesenian ini merupakan perpaduan berbagai-bagai tradisi. Hal inilah yang menjadikan kesenian Cirebon cenderung fariatif dan kompleks, penuh kolaboratif sehingga sangat indah untuk dinikmati, dan amatlah menarik untuk dipelajari.
Sumber Harian Pikiran Rakyat, 04 April 2004.

Senin, 01 Agustus 2011

Silsilah Sunan Gn.Jati & Kasultanan

Silsilah Sunan Gunung Jati & Kasultanan Cirebon

Pembagian Kesultanan Cirebon terjadi pada tahun 1677 semasa penobatan tiga orang putra Panembahan Girilaya, yaitu Sultan Sepuh, Sultan Anom, dan Panembahan Cirebon. Meskipun Keraton Kasepuhan dibangun sejak 1529 Masehi, gelar Sultan Sepuh I dinobatkan kepada Pangeran Syamsudin Martawidjaya pada tahun 1677. Ini merupakan babak baru bagi keraton Cirebon, dimana kesultanan dibagi menjadi tiga dan masing-masing berkuasa dan menurunkan para sultan berikutnya.
Berikut ini silsilah Sunan Gunung Jati yang menurunkan Sultan-sultan di Keraton Kasepuhan. Sumber informasi dari P.R.A Arief Natadiningrat, S.E.
Silsilah Sunan Gunung Jati :
Silsilah Sunan Gunung Jati, sumber P.R.A Arief Natadiningrat , S.E.
Silsilah Kasultanan Kasepuhan :
Silsilah Kasultanan Kasepuhan Cirebon, sumber : P.R.A Arief Natadiningrat, S.E.